Duluan mana, minyak habis atau udara habis? (Run out of oil or atmosphere, what is first?)

7 04 2008

Ilmuwan peraih hadiah Nobel yang pertama kali menemukan bahaya penipisan lapisan ozon beberapa tahun lalu, baru-baru ini berbicara mengenai climate change. Dia mengatakan, “jika pemansan Bumi mencapai 2,5 derajat Cessius di atas suhu seharusnya, bencana yang ditimbulkan hampir tak dapat dihindari.” Perlu disadari bahwa kini kenaikan suhu Bumi hampir mencapai 1 derajat Celsius dan terus bertambah.

“Tidak ada keraguan bahwa pemanasan global adalah akibat dari kegiatan manusia,” lanjut Mario Molina, warga negara Mexico yang mendapatkan Nobel di bidang Kimia pada 1995 atas jasanya mengungkapkan bahaya gas chlorofluorocarbon (CFC) terhadap lapisan Ozon Bumi. Menurut Columbia Encyclopedia edisi 6, CFC adalah gas yang digunakan dalam proses pendinginan di lemari es, AC, dll, biasanya dijual dengan merek dagang Freon, CFC-11, dan CFC-12.

Foto: Reuters

“Jauh sebelum kita kehabisan minyak bumi, kita akan kehabisan atmosfer,” kata akademisi Massachusetts Institute of Technology (MIT) ini.

Molina mengatakan bahwa kondisi Bumi kini ada “di ujung tanduk,” berada di bawah ancaman lingkungan yang tidak dapat dikendalikan.

“Perubahan suhu Bumi yang anda lakukan memang secara perlahan-lahan, tapi kemudian anda terkejut bahwa bencana yang ditimbulkannya terjadi secara tiba-tiba dan dramatis, ” katanya.

“Ide menjaga suhu tidak mencapai 2,5 (derajat Celsius) adalah semata-mata untuk mengurangi kemungkinan keadaan “di ujung tanduk” itu menimpa kita,” dia menambahkan.

Dari article by Tom Brown, Reuters, Apr 5, 2008

Komentar tambahan dari saya:

Menurut data International Energy Agency (IEA), tahun 2005, sektor kelistrikan adalah penyumbang terbesar emisi karbon dunia (41%), disusul transportasi (23%), industri (19%), rumah tangga (7%), dan lain-lain (10%).

Artinya kita, selaku penduduk Bumi, mesti mulai berpikir dan bertindak, minimal mengurangi pemakaian listrik dan BBM untuk kendaraan bermotor.

Mari ikut menyumbang peran untuk kesehatan Bumi.

Untuk memberi komentar atas informasi ini, silahkan klik di samping Comments di bawah.

Advertisements




Batubara, monster lingkungan.

14 12 2007

058.jpgBanyak negara kini mengembangkan energi terbarukan (renewable energy) seperti tenaga air dan tenaga angin untuk menghasilkan listrik. Tapi pada saat yang sama dua negara kaya baru, penggerak ekonomi utama Asia (juga dunia), China dan India malah meningkatkan konsumsi batu bara. Mereka diperkirakan akan sangat tergantung pada batubara selaku sumber energy kotor selama beberapa dekade ke depan.

Saat sebagian besar perwakilan negara-negara yang bersidang dalam konferensi perubahan iklim (UNFCCC) di Bali bersepakat menurunkan emisi gas rumah kaca mereka sebagai upaya mengurangi pemanasan global, lima negara menentang. Mereka adalah China, India, Jepang, Kanada, dan tentu saja Amerika. Lima sekawan dalam “keburukan” ini menggunakan alasan klasik, bahwa kesepakatan itu akan menghambat kemajuan ekonomi mereka. Artinya, mereka tetap akan menggunakan batubara sebanyak-banyaknya.

092.jpg

Salah satu pertambangan batubara di Indonesia (GLOBAL DISTRIBUTION OF ELEMENTS)

Jika tidak memikirkan keadaan Bumi yang sudah sakit parah, batubara memang menarik, sebab murah dan tersedia dalam jumlah besar. Kontribusi batubara pada suplai energi komersial dunia pada 2006 mencapai 25 %, diikuti minyak bumi. Tapi, sehubungan dengan densitas karbonnya yang tinggi, batubara bertanggungjawab terhadap sekitar 40 % pelepasan karbon dioksida ke udara, sementara karbon dioksida menyumbang 80 % pada keseluruhan gas rumah kaca. Jadi dapat dikatakan bahwa Batubara adalah monster lingkungan. (World Renewables).

018.jpgBulan lalu, pembangkit listrik berbahan bakar batubara terbesar di Cina dengan kapasitas 4 ribu MW, mulai beroperasi. Sementara, awal tahun 2007, Cina juga mengoperasikan pembangkit-pembangkit listrik serupa dengan kapasitas total 90 ribu MW.

Bukan hanya Cina, tapi India, beberapa negara Eropa, Australia, dan tentu saja Amerika, adalah negara-negara yang membakar monster global warming ini untuk mencukupi kebutuhan listrik mereka. International Energy Agency (IEA) memperkirakan akan terjadi kenaikan emisi karbon dioksida di udara sebesar 57 % sejak 2005 hingga 2030, jika negara-negara ini tidak menghentikan kebiasaan buruknya.

China di akhir 2007 ini diperkirakan melampaui Amerika sekaligus menjadi negara paling banyak melepaskan karbon dioksida ke udara. Posisi ketiga ditempati Indonesia, dan India segera menyusul.

Indonesia?

Ada dua alasan mengapa Indonesia harus memperhatikan persoalan global warming secara serius. Pertama, Indonesia adalah negara ketiga penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar dunia. Kedua, Indonesia adalah negara kedua yang memiliki hutan terluas di dunia setelah Brazil, disusul Congo. Jika Indonesia meningkatkan penggunaan batubara sekaligus membiarkan terjadinya pembabatan hutan (resmi atau illegal), maka Indonesia akan menjadi negara yang menghancurkan dunia.

Tapi sayang, walaupun dalam pidato-pidato para menteri dan pemimpin negeri ini mengatakan peduli terhadap global warming, belum terlihat dalam tindakan nyata. Jutaan hektar hutan Indonesia telah dibabat, baik untuk bahan baku Indah Kiat dan RAPP, maupun diubah menjadi kebun kelapa sawit. Pada saat yang sama, Indonesia membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara, tersebar di empat pulau dengan kapasitas total 10 ribu MW. Proyek ini adalah milik PLN dan akan dirampungkan 2009. Belum puas juga, PT ASEAN Aceh Fertilizer yang beberapa tahun belakangan tidak beroperasi, kembali akan digerakkan. Tapi tidak akan menggunakan bahan bakar gas seperti dulu, melainkan batubara.

Selamat berpidato, para petinggi.