Program Studi Energi Terbarukan (Renewable Energy Education)

17 01 2009

Pertumbuhan lapangan kerja di bidang energi hijau (green energy) dalam satu dekade balakangan sungguh pesat. Diperkirakan pertumbuhan akan makin tinggi di masa depan. Hingga 2030, diperkirakan sekitar 20 juta lapangan kerja baru di bidang energi terbarukan akan tersedia (UNEP, 2008). Silahkan baca tulisan yang lebih detail tentang topik ini di sini.

Peningkatan lapangan kerja seperti dipredisksi di atas disambut antusias oleh berbagai perguruan tinggi papan atas dunia. Kini, jumlah perguruan tinggi yang membuka program-program studi di bidang renewable energy bertambah. Antusias ini dipicu oleh trend dunia yang sedang transisi menuju green economy.

Berikut adalah beberapa universitas yang saya ketahui memiliki program studi dan riset di bidang renewable energy. Terdapat juga link ke website program studi jika anda berminat menelusuri lebih jauh.

Murdoch University, Western Australia

—- Energy Studies Program
—- Research Institute of Sustainable Energy

Solar Energy Reserach Institute, Universitas Kebangsaan Malayisa

Florida Solar Energy Centre, University of Central Florida

Energy Technology, School of Engineering Science, University of Southampton, UK.

Strategic Energy Institute, Georgia Institute of Technology, USA.

McMaster Institute for Energy Studies, McMaster University, Canada.

Institute of Energy Technology, Aalborg University, Denmark

Institut fur Solare Energieversorgungstechnik, Kassel University, Jerman.

National Library for Sustainable Energy, Technical University of Denmark

Centre of Renewable Energy System Technology, Loughborough University, UK.

Clean Energy Technology, The University of Texas-Austin, USA.

Renewable and Sustainable Energy Initiative, University of Colorado-Boulder, USA

Solar Energy, Australian National University

School of Photovoltaic and Renewable Energy, University of New South Wales, Australia

Renewable and Appropiate Energy Laboratory, University of California-Berkeley, USA.

The Centre for Energy Efficiency and Renewable Energy, University of Massachusetts, USA.

Centre for Energy, University of Newcastle, Australia

Power Engineering Research Laboratory, Mc Gill University, Canada

Solar Energy Laboratory, University of Wisconsin-Madison, USA

Institute for Energy System, Edinburgh University

Ada yang mau menambahkan daftar ini? Silahkan isi di from komentar di bawah.

Di bawah ini beberapa foto kagiatan perkuliahan dan fasilitas sistem energi terbarukan di universitas tempat saya belajar energi terbarukan, Murdoch University Western Australia.

196

Salah satu fasilitas riset off-grid power system di RISE – Murdoch Unversity (Foto: Anonymous)

1971

Fasilitas riset snergi surya, energi angin, dan beberapa aplikasi seperti solar pump di RISE – Murdoch University (Foto: Anonymous)

198Solar Taxi berkunjung ke Murdoch University (Foto: Anonymous)

199

Fasilitas praktikum pemanas air surya (solar water heater) di RISE – Murdoch University (Foto: Anonymous)

198

Fasilitas riset Hydrogen Fuel-Cell di RISE – Murdoch University (Foto: Anonymous)

199

Bus berbahan bakar Hydrogen Fuel-Cell. Salah satu hasil riset Murdoch University (Foto: Anonymous)

200

Mahasiswa Murdoch University di bawah bimbingan Dr. August Schlapfer memasak menggunakan kompor matahari (Foto: Anonymous)

201

Mahasiswa Murdoch University di bawah bimbingan Dr. August Schlapfer memasak menggunakan kompor matahari (Foto: Anonymous)

solar-cook05

Saya bersama teman-teman melakukan praktikum solar cooking (memasak dengan energi matahari) (Foto: kunaifi)

202

Di fasilitas RISE – Murdoch University ini mahasiswa mengamati karakteristik berbagai jenis solar cell. Di dalam bangunan berbentuk kotak di belakang PV array mahasiswa dapat membuat tiruan intensitas cahaya matahari yang mencapai Bumi (Foto: Anoymous)

191

Dengan fasilitas ini, RISE – Murdoch University melakukan pengujian peralatan energi terbarukan (misalnya inverter) sesuai standar internasional (Foto: RISE)

187

PV Array simulator di RISE – Murdoch University (Foto: RISE)

188

Panel-panel sistem energi terarukan di RISE – Murdoch University (Foto: RISE)

189

Battery storage array di RISE – Murdoch University (Foto: RISE)

190

Sebagian instrumen pengukur cuaca (intensitasradiasi matahari, kecepatan angin, arah angin, kelembaban, tekanan udara, dll) di RISE-Murdoch University (Foto: RISE)

194

Salah satu PV system di RISE-Murdoch University yang tersambung dengan jaringan listrik lokal (Foto: RISE)

203

Untuk mendukung riset energi terbarukan, Murdoch University memiliki stasiun meteorogi sendiri yang dapat diakses secara online di wwwmet.murdoch.edu.au

Advertisements




Mitos Kebijakan Energi

12 01 2009

Persoalan krisis energi di Indonesia adalah tidak sederhana sehingga bisa dituntaskan dengan “satu sentuhan.” Masalah sudah terlalu kompleks, salah satu di antaranya adalah persoalan subsidi energi (khususnya BBM dan Listrik).

Masalah subsidi ini kian rimut karena terkait erat dengan wilayah politik. Maksudnya bergini. Dalam politik, merebut hati calon pemilih adalah faktor terpenting. Untuk meraih dukungan calon pemilih, apapun cara akan dilakukan. Salah satu cara menarik bagi incumbent adalah menurunkan harga BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL) menjelang pemilu. Caranya ialah dengan menambah subsidi energi untuk masyarakat.

Di satu sisi, subsidi energi meringankan beban rakyat, dan meringankan beban rakyat memang sudah semestinya dilakukan pemerintah. Namun di sisi lain, subsidi punya efek domino yang cukup besar. Akibat negatif dari subsisi antara lain mendorong masyarakat untuk menghabur-hamburkan pemakaian energi fosil karena murah sebab disubsidi. Lemahnya budaya hemat energi berakibat pada degradasi lingkungan (peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer).

Akibat lain dari subsidi bahan bakar fosil adalah menghambat perkembangan energi terbarukan. Sayang, pemerintah kita belum punya skema subsidi dan insentif finansial lainnya untuk energi terbarukan. Sebagai akibat, harga energi terbarukan di Indonesia masih mahal dibanding energi fosil. Masih ada lagi beberapa akibat buruk daripada subsidi energi fosil, seperti membebani keuangan negara, dll.

Mestinya pemerintah memberikan subsidi bagi energi terbarukan dan mencabut subsidi untuk energi fosil. Jika ini dilakukan, maka posisi akan terbalik, harga energi fosil akan lebih mahal dari pada harga energi terbarukan, atau minimal sama.

Lho, mengapa pemerintah mesti kembali berlaku tidak adil dengan cuma memberi subsisi pada energi tebarukan? Memang sepintas kebijakan seperti ini terlihat tidak adil. Tapi, jika dilihat keuntungan lingkungannya, sebenarnya inilah yang adil. Konsumsi energi fosil dalam jumlah besar telah membuat lingkungan kita rusak parah. Tidak sedikit statistik yang mengatakan bahwa manusia kini bernafas dengan udara tercemar. Kita tidak menyadari ada bahaya besar di balik kebiasaan kita mengkonsumsi energi fosil dalam jumlah besar.

Tapi kan subsidi BBM dan listrik membuat rakyat senang, dan membuat rakyat senang adalah bagus? Nah, bingung kan?? Makanya di depan saya katakan masalah ini rumit.

Read the rest of this entry »





Apakah energi terbarukan ilmu kuno? (Is renewable energy technology outdated?)

18 12 2008

Seorang teman bercerita tentang teman-temannya yang mencemooh ketika ia akan mengambil Master bidang Renewable Energy di sebuah universitas di Inggris sekitar sepuluh tahun lalu. Dia dicemooh dengan alasan bahwa belajar renewable energy artinye kembali ke zaman batu. Padahal ini adalah zaman modern, zaman dimana orang mestinya belajar tentang komputer kuantum, nanoteknologi, fisika nuklir, penerbangan antariksa, dsb. Tapi teman saya bergeming, dia malah tidak puas dengan gelar Master Renewable Energy yang sudah diraihnya. Kini ia sedang mengikuti program Doktor di bidang yang sama di Australia.

Alasan dibalik cemoohan tersebut tidak sepenuhnya salah. Benar bahwa sebagian energi terbarukan adalah teknologi lama. Kincir angin misalnya, telah digunakan di Persia Timur sejak abad 9 dan konon juga digunakan oleh Khalifah Umar bin Khattab (Wikipedia). Ibnu Haitham, sarjana Islam pada abad 11, pun menggunakan solar concentrator dalam proses pembuatan parfum (K. Butti dan J. Perlin, A Golden Thread: 2000 Years of Solar Architecture Technology).

169Kincir Angin model Spanyol di La Mancha (Foto: Wikipedia)

Namun, alasan demikian juga tidak sepenuhnya benar. Berikut beberapa alasan, menurut saya, mengapa renewable energy bisa dikategorikan sebagai ilmu modern.

Pertama

Dulu renewable energy digunakan dalam bentuk teknologi sederhana dan aplikasi sederhana, tapi kini teknologi dan aplikasinya memerlukan penguasaan sains modern. Salah satu contoh adalah solar electricity. Untuk mengubah energi pada sinar matahari menjadi listrik melibatkan teknologi tinggi dan modern. Ilmi fisika material terkini bahkan belum sanggup menghasilkan solar sell yang memiliki efisiensi tinggi. Riset-riset solar sel kini menjadi trend di kalangan universitas papan atas dunia. Contoh lain, kincir angin yang dulu cuma digunakan untuk memompa air dan menggiling padi, kini digunakan untuk membangkitkan listrik. Untuk keperluan ini, diperlukan desain turbin dengan perhitungan aerodinamika rumit melibatkan ilmu aerodinamika modern layaknya pesawat terbang. Selain itu, kincir angin akan bekerja optimal jika menggunakan generator teknologi baru yang masih diteliti di banyak laboratorium. Dan jangan kira anda bisa begitu saja memasang kincir angin tanpa pengetahuan meteorologi yang memadai, bisa-bisa kincir angin andaa tidak berputar. Begitu juga dengan biogas. Kini limbah rumah-tangga dan limbah mahluk hidup sudah bisa digunakan untuk menghasilkan gas. Gas yang dihasilkan kemudian digunakan memasak atau bahkan membangkitkan listrik. Proses ini melibatkan teknologi terkini yang rumit. Sebagai tambahan, fuel cell yang kini mulai menjadi primadona adalah benar-benar teknologi baru yang belun sepenuhnya dikuasi manusia.

170Salah satu design modern solar collector milik NREL (Foto: Arcimaging)

Kedua

Kerusakan lingkungan akibat penggunakan energi fosil dan persediaan energi fosil yang sudah tipis membutuhkan solusi energi masa depan. Selama berabad-abad (terutama satu abad terakhir), manusia terlalu bergantung pada sumberdaya di perut bumi (sumber energi fosil) untuk memenuhi kebutuhan energi. Maka minyak bumi, gas, batubara, uranium dikeruk dalam jumlah besar-besaran. Kini manusia tiba-tiba kaget bahwa akibat semua itu atmosfer kita telah menjadi pekat dengan gas-gas beracun dan gas-gas rumah kaca. Terjadilah apa yang dikenal dengan pemanasan global (sebuah ilmu modern). Selain itu, manusia juga tiba-tiba kaget bahwa cadangan sumber energi fosil di perut bumi sudah amat sedikit. Jika masih mengandalkan energi fosil, nasib manusia 50 tahun ke depan terancam.

171Penggunaan energi fosil mengakibatkan pemanasan global (Foto: Ecofriend)

Maka manusia perlu sumber energi yang tidak mencemari atmosfer (ramah lingkungan) dan tersedia dalam jumlah tak terbatas (renewable). Mau tidak mau manusia ‘mengadu’ pada energi terbarukan. Maka energi terbarukan kini ‘dibangkitkan kembali dari kuburnya’ dan ‘gelarnya’ diubah dari teknologi energi zaman batu manjadi teknologi energi modern.

172Tipikal mesin untuk memproduksi solar sel (Foto: Ovonic)

Itulah paling tidak dua alasan mengapa energi terbarukan tidak dapat dikatakan sebagai ilmu kuno.





Dari Riau Selamatkan Indonesia! (From Riau to Save Indonesia)

15 09 2008

Artikel ini diterbitkan Riau Pos Sabtu (20 September 2008), juga dimuat oleh Riau Today (salah satu anak perusahaan Riau Pos Group).


Sebuah buku fenomenal berjudul “Green Province” diluncurkan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias beberapa bulan lalu. Disebut fenomenal, inilah pertama kali propinsi di tanah air menyusun kerangka kerja menuju propinsi dengan visi sustainable development (pembangunan berkelanjutan), alias propinsi ‘hijau.’ Sebelum ini, selama puluhan tahun membangun negeri, manusia dan alam seakan menjadi dua kubu bermusuhan untuk saling memusnahkan. Akibatnya, kini tiba-tiba kita sadar masalah lingkungan terlanjur parah. Lihat Jakarta, Surabaya, Medan dan kota-kota lain ‘hampir gila’ mengatasi masalah transportasi, kelangkaan air bersih, sanitasi, polusi, kepadatan penduduk, dan lain-lain memicu munculnya masalah baru seperti kesehatan, kemiskinan, kriminalitas, dan sebagainya.

Lalu Riau mau menjadi apa? Karena Riau sedang memilih pemimpin, saya mengajak para calon Gubri/Wagubri dan masyarakat pemilih mulai mempertimbangkan “pembangunan berkelanjutan” sebagai konsep pembangunan baru di bumi nan kaya ini. Kita akan berdiskusi sedikit tentang pembangunan berkelanjutan, mengapa dia penting, dan apa kaitannya dengan calon pemimpin baru Riau. Di bagian akhir akan disimpulkan sesungguhnya Riau punya peluang bagus menjadi propinsi pioneer dan percontohan dalam menerapkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Dengan kata lain, dari Riau kita bisa selamatkan Indonesia.

Apa itu pembangunan berkelanjutan?

Pada tahap paling dasar, dalam pandangan saya sebuah propinsi ‘hijau’ yang menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan memahami bahwa spesies manusia, hewan dan tumbuhan, hidup di sebuah ‘sarang’ yang kini telah rapuh. Sarang itu ialah ekosistem alias lingkungan sekitar. Menurut definisi United Nation Environment Program – UNEP (1991), pembangunan berkelanjutan ialah strategi yang menjamin peningkatan kualitas hidup manusia di bumi sembari mempertahankan daya dukung dan keanekaragaman ekosistem. Dan dengan bahasa sedikit beda, Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan mengatakan bahwa pembangunan berkelanjutan mesti menjamin terpenuhinya kebutuhan manusia di masa kini, tanpa mengurangi (apalagi menghapuskan) peluang generasi nanti memenuhi kebutuhan mereka.

Definisi di atas menjadi syarat pembangunan berkelanjutkan untuk tunduk pada tiga prinsip dasar, yaitu terjaminnya pembangunan ekonomi, peningkatan kesejahteraan sosial, dan keselamatan lingkungan hidup. Dalam bahasa sederhana bolehlah dikatakan sebagai pembangunan yang memberikan kesejahteraan ekonomi dan sosial bagus bagi masyarakat, tapi lingkungan hidup tetap terpelihara.

Mengapa menjaga lingkungan hidup?

Persoalannya, pembangunan terlanjur unsustainable (tidak berkelanjutan). Sebagaimana daerah lain, bencana lingkungan di Riau adalah ‘menu’ rutin sehingga hampir bukan lagi dianggap tragedi. Kerusakan hutan, baik karena penebangan maupun dilalap api adalah alasan nomor wahid mengapa Riau perlu mengubah orientasi pembangunan. Alasan lain ialah pembangunan kota-kota tidak berkelanjutan. Semua kota-kota di Riau seolah-olah akan dijadikan seperti Jakarta. Maka peningkatan jumlah kendaraan bermotor tak terkendali, gedung-gedung tinggi dan lantai-lantai beton menumbangkan pohon-pohon yang diperlukan menjaga kualitas udara dan menyimpan air bersih, listrik dibangkitkan dengan bahan bakar tidak ramah lingkungan, jumlah penduduk bertambah cepat, kemiskinan bukan lagi menjadi isu desa-desa tapi sudah pindah ke kota-kota, dan lain-lain.

Deforestasi di Riau (Foto:Telegraph)

Kebakaran hutan Riau (dan daerah lain) pun spesial. Saking parahnya, Bank Dunia menempatkan Indonesia pada posisi ketiga negara penyumbang karbon dioksida (C02) dunia akibat kebakaran hutan. Padahal CO2 adalah gas utama penyebab pemanasan global. Dan pemanasan global diyakini sebagai penyebab bencana alam modern seperti pencairan es di kutub, kenaikan permukaan air laut, peningkatan berbagai jenis penyakit, topan, badai, banjir, perubahan iklim, musim-musim sulit diprediksi, dan sebagainya.

Pada siapa berharap?

Semua tragedi di atas sesungguhnya bisa diantisipasi dengan mengubah orientasi pembangunan menjadi pembangunan berkelanjutan. Persoalannya, diskusi ini menjadi sia-sia jika dipisahkan dari ranah politik. Tanpa dukungan politik sebuah konsep tidak pernah menjadi kebijakan mengikat. Inilah saatnya berharap pada pemimpin, tanpa bermaksud mengatakan pemimpin akan menjalankan pembangunan berkelanjutan sendirian. Tapi dari pemimpin diharapkan muncul sebuah awal.

Para calon pemimpin jangan mengira isu lingkungan hidup secara politis tidak bisa ‘dijual’ di Riau dengan alasan minimnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai bidang ini. Walaupun perkiraan tersebut tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Secara kultural, masyarakat Riau, yang paling tradisional sekalipun, memiliki kesadaran alami mengenai lingkungan hidup. Kesadaran itu masih dimiliki sebagian besar masyarakat yang belum sepenuhnya terlepas dari budaya agrikultur dan romantika kehidupan desa nan asri. Ditambah arus informasi membawa kabar buruk akibat lalainya manusia memperhatikan persoalan lingkungan, diperkuat keinginan hidup di ‘sarang’ aman. Semuanya memberi motivasi kepada masyarakat untuk mulai ‘berbaik-baik’ dengan lingkungan hidup. Masyarakat Riau tentu paham bahwa Bumi ini satu-satunya ‘rumah.’ Jika rumah ini rusak bangunannya, udaranya membuat sesak dada saat dihirup, airnya menjadi lumpur kimia, kita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk sekedar sadar pentingnya aksi nyata guna menyelamatkan ‘rumah’ dari ‘kekaraman ekologis.’

Di Jawa Timur kini beredar isu bahwa masyarakat mencari ‘Gubernur Hijau’ setelah propinsi tersebut ‘terjungkang’ kasus lumpur Lapindo. Baru-baru ini Kementarian Lingkungan Hidup juga mengumumkan tahun 2030 Pulau Jawa kehabisan air akibat kelalaian memelihara lingkungan hidup. Tentu Riau tidak perlu menunggu datangnya bencana sekelas Lapindo atau ancaman kekeringan seperti di Jawa untuk mulai berpikir ‘hijau.’ Riau juga tidak perlu menunggu Pekanbaru dan kota-kota lain menjadi seperti Jakarta yang sedang stress menghadapi berbagai masalah akibat pembangunan masa lalu tidak berkelanjutan. Yang diperlukan Riau kini seorang pemimpin berkata “AYO!”

Dari Riau Selamatkan Indonesia

Riau sesungguhnya punya peluang menjadi propinsi pertama di Indonesia menerapkan pembangunan berkelanjutkan. Paling tidak sinyal tersebut mulai tampak ketika Gubri diajak SBY menghadiri konferensi UNFCCC Bali akhir 2007 lalu. Mungkin alasan SBY mengajak Gubri karena kerusakan lingkungan di Riau termasuk paling parah. Tapi maksudnya jelas, supaya Riau lebih concern dan berhenti terus-terusan ‘beringas’ pada lingkungan hidup.

Potensi utama Riau menjadi pioneer pembangunan berkelanjutan di Indonesia ialah adanya dukungan APBD besar. Dengan dukungan dana kuat, Bumi Melayu dapat menjadi ‘The Green Malay’ lebih cepat. Momentum pemilihan Gubri kali ini adalah titik krusial menentukan apakah Riau mau merebut peluang atau biarkan daerah lain melakukan? Jika peluang ini direbut, Riau akan menjadi pusat cahaya dari mana pembangunan berkelanjutan nasional mulai bersinar, dan membuktikan rehabilitasi lingkungan dan sustainable life and community bisa diraih bangsa Indonesia.

Keunggulan lain adalah tersedianya ‘sumberdaya energi alam’ melimpah yang merupakan salah satu ciri pembangunan berkelanjutan. Dengan posisi di khatulistiwa, Riau memiliki potensi energi surya dalam jumlah besar sepanjang tahun tanpa dipengaruhi musim. Empat sungai besar dan ratusan sungai-sungai kecil menyimpan potensi energi mikrohidro besar. Produk (bahkan limbah) perkebunan kelapa sawit memungkinkan pengembangan biodiesel. Potensi energi pasang-surut dan gelombang laut juga terbuka untuk dieksplorasi. Semua ‘hadiah Tuhan’ tersebut membuka peluang besar bagi Riau menjadi pioneer pengembangan energi terbarukan nasional.

Siapa Cagubri yang tepat?

Lalu siapa pemimpin tepat untuk mewujudkan semua itu? Ini pertanyaan sulit dan tidak mungkin dibahas tuntas pada artikel ini. Namun Gubernur Riau yang kita pilih sebentar lagi minimal mesti memenuhi tiga syarat. Pertama, tidak memiliki cacat masa lalu ‘berdekat-dekatan’ dengan investor mengakibatkan kerusakan lingkungan. Kedua, memiliki konsep pembangunan berkelanjutan untuk diterapkan pada masa jabatannya. Ketiga, tidak menggunakan dana investor yang diindikasi terlibat memperburuk kondisi lingkungan Riau untuk kampanye pemilihan Gubri.

Aceh memang pertama menerbitkan buku “Propinsi Hijau,” tapi Riau mampu menjadi yang pertama menerapkannya di Indonesia. Suara kita sebagai pemilih kini menjadi penting. Jangan salah pilih, “rumah” hampir karam!





Ratu Inggris ikut ‘hijau’ (Queen Elisabeth goes green)

22 05 2008

Ratu Elizabeth kini menjadi salah satu public figure paling ‘hijau’ dunia. Baru-baru ini Ratu Inggris ini melalui perusahaan pribadinya ‘the Crown Estate’ melakukan investasi pembangunan turbin angina terbesar dunia.

Ratu Elisabeth II (Foto: media.bonnint)

Sebelum ini, perusahaan yang menguasai sebagian besar dasar laut pantai Inggris ini hanya menyewakan kawasannya untuk proyek-proyek turbin angin dan tidak melakukan investasi untuk energi angin.

Tapi kini akan punya turbin berkapasitas 7,5 MW sekaligus menjadi yang terbesar di dunia, jika menjelang diperasikan 2010 tidak ada yang membuat turbin lebih besar.

Semua energi listrik yang dihasilkan akan dijual ke perusahaan listrik setempat.

Aapakah ada orang kaya Indonesia yang ingin ‘hijau’ juga?

Diterjemahkan dari: Reuters





Foto lingkungan terbaru (newest environment picture)

14 05 2008

Di kala kita masih bisa bermandikan air, sesungguhnya tidak sedikit saudara kita di belahan dunia lain yang rindu mandi air.

Pada “Hari Bumi” 22 April 2008 seorang pria mandi di sungai kering dan kotor di kota Matagalpa city, 150 km utara Managua, Nicaragua, (Foto: reuters)





Lingkungan, Energi, dan Sains

9 05 2008

Halaman ini adalah pintu masuk ke sebuah wilayah luas yang kini banyak diperbincangkan. Selain tuntutan profesi dan ketertarikan, tema-tema yang diusung pada bagian ini saya kemukakan sebagai bagian penting sehubungan hajat hidup orang banyak. Cakupan tema yang luas mulai dari isu climate change hingga kebijakan energi mudah-mudahan dapat memuaskan rasa ingin tahu anda.

Pemakaian energi fosil secara berlebihan telah membawa umat manusia pada persoalan lingkungan serius. Dua metode yang dipercaya sebagai solusi persoalan kemanusiaan ini adalah pengembangan energi alternatif dan efisiensi energi. Beberapa jenis energi alternatif yang dibahas pada blog ini mencakup bio-energy, fuel cell dan hidrogen, tenaga air, angin, laut, matahari, dan panas bumi.

Selain itu, di sini anda juga akan menemukan informasi umum mengenai energi dan sains umum, termasuk foto-foto lingkungan hidup terbaru yang menggambarkan bahwa alam ini benar-benar dalam bahaya.

Semoga bermanfaat.

0082.jpg