Apakah energi terbarukan ilmu kuno? (Is renewable energy technology outdated?)

18 12 2008

Seorang teman bercerita tentang teman-temannya yang mencemooh ketika ia akan mengambil Master bidang Renewable Energy di sebuah universitas di Inggris sekitar sepuluh tahun lalu. Dia dicemooh dengan alasan bahwa belajar renewable energy artinye kembali ke zaman batu. Padahal ini adalah zaman modern, zaman dimana orang mestinya belajar tentang komputer kuantum, nanoteknologi, fisika nuklir, penerbangan antariksa, dsb. Tapi teman saya bergeming, dia malah tidak puas dengan gelar Master Renewable Energy yang sudah diraihnya. Kini ia sedang mengikuti program Doktor di bidang yang sama di Australia.

Alasan dibalik cemoohan tersebut tidak sepenuhnya salah. Benar bahwa sebagian energi terbarukan adalah teknologi lama. Kincir angin misalnya, telah digunakan di Persia Timur sejak abad 9 dan konon juga digunakan oleh Khalifah Umar bin Khattab (Wikipedia). Ibnu Haitham, sarjana Islam pada abad 11, pun menggunakan solar concentrator dalam proses pembuatan parfum (K. Butti dan J. Perlin, A Golden Thread: 2000 Years of Solar Architecture Technology).

169Kincir Angin model Spanyol di La Mancha (Foto: Wikipedia)

Namun, alasan demikian juga tidak sepenuhnya benar. Berikut beberapa alasan, menurut saya, mengapa renewable energy bisa dikategorikan sebagai ilmu modern.

Pertama

Dulu renewable energy digunakan dalam bentuk teknologi sederhana dan aplikasi sederhana, tapi kini teknologi dan aplikasinya memerlukan penguasaan sains modern. Salah satu contoh adalah solar electricity. Untuk mengubah energi pada sinar matahari menjadi listrik melibatkan teknologi tinggi dan modern. Ilmi fisika material terkini bahkan belum sanggup menghasilkan solar sell yang memiliki efisiensi tinggi. Riset-riset solar sel kini menjadi trend di kalangan universitas papan atas dunia. Contoh lain, kincir angin yang dulu cuma digunakan untuk memompa air dan menggiling padi, kini digunakan untuk membangkitkan listrik. Untuk keperluan ini, diperlukan desain turbin dengan perhitungan aerodinamika rumit melibatkan ilmu aerodinamika modern layaknya pesawat terbang. Selain itu, kincir angin akan bekerja optimal jika menggunakan generator teknologi baru yang masih diteliti di banyak laboratorium. Dan jangan kira anda bisa begitu saja memasang kincir angin tanpa pengetahuan meteorologi yang memadai, bisa-bisa kincir angin andaa tidak berputar. Begitu juga dengan biogas. Kini limbah rumah-tangga dan limbah mahluk hidup sudah bisa digunakan untuk menghasilkan gas. Gas yang dihasilkan kemudian digunakan memasak atau bahkan membangkitkan listrik. Proses ini melibatkan teknologi terkini yang rumit. Sebagai tambahan, fuel cell yang kini mulai menjadi primadona adalah benar-benar teknologi baru yang belun sepenuhnya dikuasi manusia.

170Salah satu design modern solar collector milik NREL (Foto: Arcimaging)

Kedua

Kerusakan lingkungan akibat penggunakan energi fosil dan persediaan energi fosil yang sudah tipis membutuhkan solusi energi masa depan. Selama berabad-abad (terutama satu abad terakhir), manusia terlalu bergantung pada sumberdaya di perut bumi (sumber energi fosil) untuk memenuhi kebutuhan energi. Maka minyak bumi, gas, batubara, uranium dikeruk dalam jumlah besar-besaran. Kini manusia tiba-tiba kaget bahwa akibat semua itu atmosfer kita telah menjadi pekat dengan gas-gas beracun dan gas-gas rumah kaca. Terjadilah apa yang dikenal dengan pemanasan global (sebuah ilmu modern). Selain itu, manusia juga tiba-tiba kaget bahwa cadangan sumber energi fosil di perut bumi sudah amat sedikit. Jika masih mengandalkan energi fosil, nasib manusia 50 tahun ke depan terancam.

171Penggunaan energi fosil mengakibatkan pemanasan global (Foto: Ecofriend)

Maka manusia perlu sumber energi yang tidak mencemari atmosfer (ramah lingkungan) dan tersedia dalam jumlah tak terbatas (renewable). Mau tidak mau manusia ‘mengadu’ pada energi terbarukan. Maka energi terbarukan kini ‘dibangkitkan kembali dari kuburnya’ dan ‘gelarnya’ diubah dari teknologi energi zaman batu manjadi teknologi energi modern.

172Tipikal mesin untuk memproduksi solar sel (Foto: Ovonic)

Itulah paling tidak dua alasan mengapa energi terbarukan tidak dapat dikatakan sebagai ilmu kuno.


Actions

Information

2 responses

26 12 2008
Idu Yhaw Amir P

salam blogger…
kami mengundang kawan-kawan untuk bergabung di Tim Redaksi Sungaikuantan.Com

2 01 2009
ruangdosen

Ass.
Apa kabar bang? Sekeluarga sehat kan?
Salam untuk kak Mur…

m badri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: