Pro Kontra Biofuels

23 12 2007

098.jpgPro kontra biofuel (bahan baker nabati) nampaknya berlanjut. Tidak sedikit yang meragukan efektivitas, keekonomian dan kesinambungan lingkungan sumber energi terbarukan (ET) satu ini. Namun banyak juga yang optimis. (Foto kiri: tebu bahan bakan biofuel)

Berikut adalah kisah yang mengelaborasi kedua pendapat, dicuplik secara bebas dari sebuah artikel di Worldofrenewables (http://www.worldofrenewables.com/index.php?s=4213a4e5221705fa304b4b5452529362&do=viewarticle&artid=910&title=biofuels-and-sustainability-biofuels-boom-or-bust).

· Biofuel (terutama ethanol dan biodiesel) diperkirakan booming di Amerika Latin. Kawasan ini secara alamiah memiliki prospek bagus untuk pengembangan biofuel; kawasan pertanian luas, tanah subur, tenaga kerja murah. Jenis tanaman utama yang prospek adalah tebu dan kacang kedelai.

· Pemerintah Brazil mengembangkan biofuel sejak tahun 70an ketika harga minyak mentah melambung. Sebuah terobosan berani.

· Kini, 8 dari 10 mobil baru di Brazil memiki mesin fleksibel, alias dapat menggunakan BBM biasa sekaligus ethanol.

· Di kawasan selatan Brazil, yang merupakan pusat perkebunan tebu, kini beroperasi 400an pabrik ethanol.

· Konsumsi ethanol di Brazil diupayakan meningkat dari 14 Miliar liter tahun 2006 menjadi 39 Miliar liter tahun 2012.

· Isu ini juga merambah ke dunia olah raga. Pada musim perlombaan Formula 1 tahun 2008 ini, tim AT&T William akan menggunakan mobil menggunakan campuran biofuel, disponsori oleh Petrobras, produsen biofuel Brazil. Petrobras menyebut biofuel sebagai “green gold.”

· Selain Brazil, beberapa negara di kawasan tersebut juga mengikuti langkah sukses Brazil.

· Awal 2007 Argentina membuat peraturan yang menawarkan keringanan pajak dan insentif lain kepada produsen biofuel.

· Negara-negara Costa Rica, Colombia, El Salvador, Jamaica, Venezuela, Peru, Paraguay, Ecuador, Cuba dan Venezuela sedang memulai pengembangan biofuel. Satu-satunya negara yang menutup pintu di kawasan ini adalah Mexico.

099.jpgApa kata kritikus?

· Pemanfaatan lahan untuk pengembangan biofuel akan menaikkan harga-harga bahan makanan yang ujung-ujungnya dapat menyebabkan kelangkaan pangan. Yang lain mengatakan upaya ini akan mempercepat deforestasi, kesulitan air dan erosi. (Foto kiri: kacang kedelai bahan baku biofuel. Sumber: http://cropwatch.unl.edu/photos/cwphoto/crop05-6soybean.jpg)

· Oktober 2007 Pelapor Khusus untuk PBB (UN Special Rapporteu) menyebut pengembangan biofuel sebagai “kejahatan kemanusiaan” karena mendorong melambungnya harga-harga sereal dan bahan makanan lain. Dia mengusulkan moratorium biofuel dalam 5 tahun ke depan dan mendesak ilmuwan mencari cara lain memproduksi ethanol selain dari tumbuhan.

· Seiring meningkatnya harga bahan baku pertanian, harga biofuel juga naik. The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), organisasi negara-negara maju yang amat berpengaruh melaporkan kenaikan harga biofuel 20-50 % hingga 2016. Artinya, terbuka kemungkinan harga biofuel tidak jauh beda dibanding harga BBM. Jika tidak ada regulasi yang bagus, persoalan ini, plus persoalan oversupply tak dapat dihindari.

100.jpgKomentar saya.

· Keunggulan utama biofuel adalah karena dia terbarukan. Jika dikelola dengan baik, maka ketersediaannya tidak putus-putus. (Foto kiri: Jarak pagar bahan baku biofuel. Sumber: http://www.rain-tree.com/Plant-Images/Jatropha_curcas_p2.jpg)

· Menggantikan semua BBM dengan biofuel memang merupakan keinginan yang terlalu ambisius. Menurut saya, minimal 20 tahun ke depan, biofuel dapat memainkan peran penting dalam struktur energy mix nasional. Katakanlah sector industri diwajibkan beralih dari BBM ke biofuel. Ini baru keinginan yang realistis.

· Pertumbuhan penduduk yang cepat memberi tekanan pada kebutuhan ruang hidup yang lebih luas, dan pada gilirannya membutuhkan lahan yang lebih luas pula untuk memproduksi makanan. Pengembanggan biofuel secara massive memang akan bentrok dengan kebutuhan di atas. Solusinya, karena biofuel hanya akan menjadi komponen dalam energy mix, lahannya dapat menggunakan lahan kritis atau lahan marginal. Sebab sebagian besar tanaman biofuel dapat tumbuh di lahan seperti itu.

Semoga bermanfaat


Actions

Information

One response

21 07 2008
risvank

Memang biofuel menjadi sebuah dilema, selain menguntungkan dari segi pengurangan pencemaran tetapi juga menimbulkan dampak bagi pangan. Dengan semakin bertambahnya produksi biofuel maka mengurangi bahan pangan. Apabila tebu-tebu di Indonesia semuanya digunakan untuk produksi biofuel apakah kita siap untuk tidak mengkonsumsi gula ??

http://www.risvank.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: