Ayo selamatkan Bumi!

5 12 2007

044.jpgMenjelangan konferensi UNFCCC di Bali awal Desember ini, eskalasi gerakan para aktivis lingkungan semakin meningkat. Greenpeace, seperti biasa melakukan aksi dengan tindakan nyata. Sejak dua bulan lalu para aktivis Grenpeace Asia telah menyebar ke berbagai perkebunan sawit di Riau. Mereka bukan hanya memssang spanduk, tapi juga ‘mengganggu’ aktifitas sebagian perusahaan sawit.

Tiga hari lalu, Greenpeace Australia mematikan pembangkit listrik bertenaga batubara terbesar di negara bagian New South Wales, kemudian naik ke cerobong asap pembangkit tersebut dan memasang spanduk bertulisan COAL KILLS. Mereka juga naik ke atap gedung pembangkit tersebut dan menuliskan kalimat yang sama menggunakan cat sehingga dapat dibaca dari pesawat udara.

045.jpgSementara di Riau, sejak jum’at lalu “Rainbow Warrior,” kapal milik Greenpeace International mendempet sebuah kapal tanker yang akan membawa minyak sawit untuk diekspor ke India, sehingga tidak bisa bergerak, juga menghambat kapal tanker lain yang akan merapat untuk memuat minyak sawit. Hingga kini pihak pelabuhan belum berhasil menghentikan aksi mereka dan tidak bisa melakukan tindakan tegas sebab mereka dilindungi hukum internasional.

046.jpgMemang ada juga sebagian pihak yang menyayangkan pemadaman pembangkit listrik dan pemblokiran kapal tanker, dan itu bisa dimaklumi. Tapi tidak perlu khawatir. Yang perlu dilihat adalah alasan dibalik gerakan ini.

Gerakan penyelamatan lingkungan sesungguhnya merupakan kewajiban semua penduduk bumi. Tapi sayang, sebagian besar penduduk bumi justru melakukan hal sebaliknya pada lingkungan. Ibarat sebuah rumah berdinding papan yang diuhuni sebuah keluarga besar, maka semua anggota keluarga telah mengotori rumah dengan lumpur dan kotoran, bahkan ada yang mencopoti paku-paku yang menahan tiang-tiang dan dinding papan, ada juga yang menyiramkan air keras sehingga rumah menjadi lapuk, ada juga yang mengambil dinding dan tiang untuk dijual, bahkan ada yang mulai menyalakan api di kayu-kayu keringnya.

Tapi ada satu (baca: sedikit) anggota keluarga yang berusaha mempertahankan keutuhan rumah. Namun dia sudah sangat lelah, karena begitu di sini dibersihkan, pada saat yang sama di tempat lain dilumuri kotoran lagi. Begitu paku di sini dipasang lagi, di tempat lain puluhan paku dilepaskan lagi. Kekuatannya dalam menyelamatkan rumah tidak seimbang dengan gerakan yang merusak rumah. Akhirnya apa yang terjadi? Dinding rumah mulai rubuh, api yang disulut mulai membakar, rumah mulai miring. Rumah dalam bahaya besar.

Demikianlah gambaran bumi kita kini, tempat di mana kita hidup. Dulu penduduk dunia menganggap masalah kerusakan lingkungan ini kecil. Karena memang perubahan lingkungan terjadi secara pelan, tapi pasti. Bahkan IPCC, organiasi PBB yang membidangi perubahan iklim kecele, sebab ternyata kerusakan lebih parah dari yang mereka antisipasi, walaupun dulu perkiraan mereka itu dipatok tinggi.

Baru-baru ini (2006) sebuah riset di Canada melaporkan, daratan salju setebal 9 meter seluas ratusan meter persegi meleleh hanya dalam waktu 11 jam. Peristiwa itu telah terjadi sejak lama dan masih berlanjut hingga kini (sumber: Discovery Channel). Penelitian kedokteran terbaru mengungkapkan bahwa flu burung bisa meluas seperti sekarang ternyata dipicu oleh perubahan iklim global. Andai tidak ada global warming, maka flu burung hanya akan menjadi masalah lokal saja. Ingat, beberapa minggu lalu sudah ada korban flu burung meninggal di Riau, yang membuat tim WHO tergopoh-gopoh datang dari Amerika.

047-james-balog-nationalgeographic3.jpg

Foto: James Balog, National Geographic. Terlihat luasan es yang mencair setiap 11 jam. (http://www.nationalgeographic.com/adventure/environment/global-warming/james-balog-gallery-3.html)

Ah.. terlalu banyak data yang membuktikan bahwa bumi kita ini (dan kita yang ada di dalamnya) benar-benar dalam bahaya. Sayang, tidak semua penduduk dunia menyadarinya, atau peduli padanya. Jangan sampai kita baru tersadar ketika bencana itu sudah ada di depan mata kita, saat kita tidak bisa mengelak lagi.

Data International Energy Agency mengatakan penyebab terbesar perubahan iklim global adalah pembangkitan listrik, terutama yang menggunakan batubara (note: Indonesia kini sedang membangun PLTU berbahan bakar batubara 10.000 MW). Disusul transportasi, industri, dan rumah tangga. Semua itu adalah produsen karbon dan gas rumah kaca lainnya. Mestinya karbon itu bisa diserap oleh tumbuhan, karena tumbuhan bernafas dengan CO2 dan mengelurkan O2. Tapi hutan pun sudah lenyap di mana-mana. Akibatnya, karbon-karbon beracun itu justru digunakan manusia dan hewan untuk bernafas.

Indonesia menurut Eye on Forest adalah perusak terbesar hutan dunia, dan Riau adalah perusak terbesar di Indonesia. Bahkan menurut Greenpeace, Riau adalah perusak terbesar dunia. Untuk menampung emisi karbon dunia sekarang, kita perlu 6 buah bumi lagi. Lagi-lagi kita tersadar begitu terlambat.

Ngeri membayangkannya. Ramalan para ilmuwan mulai terbukti. Andai datangnya lebih cepat dari yang diperkirakan; udara tidak sehat lagi untuk bernafas, air laut meluap akibat es di kutub yang mencair cepat, tapi air minum hilang di mana-mana, daratan jadi kerontang, angina topan datang tanpa ampun, kemana kita akan lari? Bumi inilah satu-satunya rumah kita.

Jadi, persoalan ini bukanlah masalah aktivis lingkungan saja. Ini adalah masalah kita semua. Karena kita adalah penduduk bumi, timbullah kewajiban kita menyelamatkan bumi dan kehidupan di dalamnya…….

Perth, 18 Nov 2007 22.16 WST


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: